Cukup Tau


Pagi itu sebenarnya orang itu sangat malas untuk beraktivitas, satu-satunya hal yang ada dibenaknya hanyalah tetap di kamar, setelah bangun dari tidur malasnya dia akan menonton film atau youtube layaknya seperti menikmati hari liburnya, namun sehari sebelumnya dia diajak oleh teman-temannya untuk ikut bersama mereka ke perpustakaan nasional.


Sebetulnya orang itu sangat ingin pergi kesana dari bulan lalu, dia ingin tau di dalam tempat itu, ditambah orang itu juga penasaran apakah dia dapat menemukan buku-buku langka disana.

Orang itu pun setuju untuk ikut bersama mereka, karena dia penasaran dan mengorbankan waktu liburnya untuk ikut demi orang itu sendiri. Kenyataannya orang itu selalu berekspetasi berlebihan, mereka sama sekali berbeda dari yang orang itu pikirkan. 

Mereka janji bertemu jam 10 pagi di suatu halte, orang itu yang jarak rumahnya lebih jauh sudah berada disana tepat pukul 10 pagi. Sementara mereka baru datang jam 11, entah apa kesibukan mereka semua tapi orang itu tidak terlalu memikirkan itu, memang orang itu menjadi malas setelah nunggu 1 jam lebih di halte, namun dia dengan bodoh tetap berharap. Jam 12 seperempat orang itu bersama "temannya" tiba di perpustakaan nasional, baru saja sampai mereka menitipkan tas dan barang-barang di loker lalu mendaftarkan dirinya untuk membuat kartu anggota perpustakaan. Orang itu tau dalam benakknya mereka sangat malas harus menunggu orang itu yang belum membuat kartu anggota dan harus menunggu sampai antrian ke-314. Sambil menunggu nomornya dipanggil mereka pergi ke lantai 22 yang isinya berbagai macam buku, mereka berpisah menjadi 2 kelompok, orang itu ikut teman dekat satu-satunya untuk mengembalikan buku yang telah dipinjamnya seminggu yang lalu, sementara mereka berdua sisanya sibuk mencari novel untuk dipinjam. 

Orang itu hanya ikut temannya dan itu sangat canggung, selepas semua itu dia masih penasaran dengan buku-buku yang ada disana, jadi dia terus mondar-mandir, ingin tau semua sisi dari perpustakaan ini, pikirnya. Temannya tau itu, orang itu bisa lihat dari raut wajahnya dia cukup pasrah dengan kelakuannya dia pikir, orang itu kasihan dengannya karena dia bilang semalam begadang, orang itu dapat memahami temannya. Saat itu dia sedang ke toilet dan menitipkan dompet milik temannya kepada orang itu, dia akan menemui orang itu di depan toilet bilangnya. Orang itu ikut saja, menunggu di depan toilet sambil mondar-mandir antara rak buku-buku itu, tapi dia merasa tidak bebas mondar-mandir ke berbagai tempat karena temannya. 20 menit berlalu mereka menemui orang itu, perasaannya mulai tidak enak. Orang itu tau tipe orang macam apa mereka, tentunya mereka akan sebal dengannya, masa bodo ternyata mereka yang salah mencarinya di depan toilet lantai 21 selama 20 menit. 


Mereka akhirnya mendapatkan novel yang mereka ingin pinjam, orang itu yang hanya melihat-lihat sekilas buku dan mondar-mandir kesana-kesini karena belum bisa meminjam buku karena belum memiliki kartu anggota. 

Mereka kembali pergi ke lantai 2 untuk menunggu nomor orang itu dipanggil, dia tau, mereka sangat malas menunggu itu. Sekitar setengah jam nomornya dipanggil, sebelum itu dia pergi ke toilet, sebuah ide aneh dia dapatkan. 

Setelah kartu anggotanya sudah jadi sekitar jam setengah 3 sore, orang itu yang tidak tenang karena belum sholat zuhur memberitahu mereka "saudaraku juga ingin kesini. Nanti kunci lokernya aku saja yang pegang." dia tau mereka pasti tidak akan mau sholat disana, mengajak mereka pun percuma, mereka bahkan akan merasa kerepotan hanya untuk mengunggunya sholat.


Setelah itu mereka pergi ke lantai 4 untuk melihat sebuah pameran lukisan.  Lukisan-lukisan itu tampak bagus dengan berbagai aliran, surealisme mendominasi dengan karakter perumpamaan kodok menyerupai manusia, orang biasa akan menganggapnya lukisan aneh, tapi dibalik itu semua lukisan pasti memiliki arti sendiri, seorang pelukis pasti menyimpan sebuah makna filosofis tersendiri dibalik karyanya. Lukisan itu perpaduan antara keindahan dan keabsurd-an karena menggunakan karakter kodok.

Setelah itu mereka ingin pulang, mereka menyerahkan kunci loker kepada orang itu yang kira dia akan menunggu kedatangan saudaranya, padahal saudaranya tidak ada, orang itu berbohong karena hanya ingin menikmati waktunya sendirian di perpustakaan.