Sebuah Perkara


Bahagia mungkin memang mereka bisa dapatkan dengan mudah, tapi mereka selalu merasa paling tersakiti hingga bahkan mengaku tidak cukup bahagia. Nyatanya orang macam itu merupakan orang yang kurang bersyukur, ketika sebuah perkara datang kepadanya dia akan mengeluh dan berusaha menghindarinya, bukan menghadapi atau pun mencari solusi. Ketika mereka menemukan seorang yang mereka anggap akan menyelesaikan masalah untuk mereka, orang itu membantunya dengan senang hati, namun semua itu berubah ketika mereka merusak salah satu hal yang orang itu coba untuk perbaiki. Orang itu sedang memperbaiki salah satu barang milik kelompok mereka yang rusak, dan memprediksikan bahwa barangnya rusak namun ia tidak yakin, lalu dia meninggalkan barang itu dimeja dan pergi ke bangku tempat laptopnya untuk mencari tau lebih banyak tentang barang itu.

Orang itu meminta mereka untuk mengumpulkan uang untuk mengganti barang yang dia anggap rusak untuk antisipasi jika barang itu tidak dapat diperbaiki, seketika orang itu dapat melihat raut wajah mereka dan isi hati mereka bahwa mereka merasa mendongkol terhadap orang itu setelah orang itu memberitahunya, karena kini barang itu rusak dan harus dibeli baru akan membutuhkan biaya yang lebih banyak.

Ketika pulang dia mencari barang itu, dan merasa kecewa berat saat seorang temannya memberi tau bahwa barang itu telah sengaja dirusak oleh salah satu dari  mereka karena orang itu yang bilang bahwa barangnya rusak, padahal orang itu masih ingin mencoba untuk memperbaikinya.

Orang itu merasa muak dan memang sudah menyimpan kebencian terhadap mereka, entah sampai kapan dendam itu akan hilang, orang itu terus diam-diam membenci mereka dan tetap berpura-pura membantu mereka, hanya karena orang itu takut ditinggalkan, sungguh menyedihkan.

Orang itu orang yang baik, namun banyak yang memanfaatkannya, dia menyedihkan, dia bahkan tidak bisa melakukan balas dendam yang memuaskan dirinya sekalipun, hanya bisa menyimpannya. Orang itu percaya balas dendam terbaik adalah "diam", jadi orang itu berusaha untuk diam dan menjauhi mereka, namun mereka bagaikan semut yang terus menemukan gula, sebuah masalah mereka temukan tapi mereka terus mendatangi dan mengumut orang itu bagaikan gula, orang itu bagaikan gula yang tidak bisa menghindar atau pun pindah ketempat lain. 

Orang itu terus terjebak, dia terus berharap dia dapat memutuskan hubungan dengan mereka semua, tapi takdir berkata lain, dia akan terus bersabar sampai mereka benar-benar berpisah selamanya.