Catatan Tengah Malam
Di tengah malam yang sunyi dengan hawa yang dingin, seorang gadis remaja baru saja mengingat kembali kejadian tiga hari yang lalu. Sebuah kejadian yang sulit dia lupakan, tapi mendalam, dia menyesal melakukannya. Dia menyadari, saat itu pikirannya sedang porak-poranda, emosinya tak terkendali. Barulah saat dia mengurung dirinya di kamar, dia tersadar akan suatu hal yang sangat penting. Dia menyadari dia telah melakukan kekerasan tidak wajar kepada adiknya, dia sungguh menyesal, tapi tidak saat dia melakukan itu.
Adik kecilnya menangis, saat dia mengingat kembali gadis itu juga menangis karena menyesal, tapi saat itu tidak ada rasa marah atau pun emosi yang meledak, dia melakukan kekerasan itu karena adiknya keras kepala. Sungguh dia menyesali perbuatan yang tidak pantas itu, itu sangat melukai hati adik kecilnya, hati gadis itupun terluka sebab perilakunya sendiri, bagaimana bisa dia melukai adik kecilnya sendiri, dia seolah tidak peduli apa yang telah dia lakukan, tapi dia dalam kesadaran penuh. Dia sempat takut, akan pikiran buruk yang ia rasakan dari kemarin memengaruhi tindakan dia di rumah, bahkan tindakan dia terhadap adiknya sendiri. Pikiran buruk seperti benci dan mengutuk terus ada dalam benak gadis itu. Mereka teman yang tidak bisa disingkirkan, teman? tunggu, teman? apakah mereka layak dianggap teman? gadis itu tidak merasa begitu dekat dengan mereka, tapi sebenarnya mereka di kelas cukup kompak, hanya saja karena gadis itu sudah mengetahui dan mengalami keburukan dari mereka masing-masing berulang-ulang dia jadi terus membenci dan mengutuknya, daripada menerimanya sebagai kekurangan.
Sekarang gadis itu dalam sebuah lingkaran kebingungan akan dirinya sendiri, dia mau berdamai dengan menerima kekurangan mereka, tapi disisi lain dia terus membenci dan mengutuk mereka karena dia pikir hanya dia yang selalu mengalami itu, seolah tidak ada orang lain di kelasnya yang mengalami hal serupa. Sebuah pandangan egois yang bertolak belakang dengan keinginannya.
